Editor Downcodes akan membawa Anda memahami bagaimana India menggunakan kecerdasan buatan untuk meningkatkan e-Government! India secara aktif menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk berinovasi dalam infrastruktur digitalnya dan menyediakan layanan pemerintah yang nyaman bagi lebih banyak orang. Mulai dari memproses ratusan ribu pertanyaan warga setiap bulan hingga menghilangkan hambatan bahasa melalui sistem dukungan bilingual, kecerdasan buatan semakin banyak digunakan di India, yang mencakup pendaftaran, peninjauan kualifikasi, pembaruan informasi, dan aspek lainnya, yang secara signifikan meningkatkan efisiensi dan aksesibilitas layanan pemerintah. Artikel ini akan memberikan diskusi mendalam tentang investasi India, pembangunan lokal dan rencana masa depan di bidang kecerdasan buatan, yang menunjukkan eksplorasi aktif India dalam transformasi digital.
Di India, kecerdasan buatan (AI) dengan cepat mengubah infrastruktur digital pemerintah, sehingga memungkinkan lebih banyak masyarakat yang kurang terlayani untuk mendapatkan manfaatnya. Baru-baru ini, pada KTT NVIDIA di Mumbai, Sharmishtha Dasgupta, wakil direktur Pusat Informatika Nasional, berbagi informasi terkini tentang bagaimana AI dapat meningkatkan e-Government. Dia menyebutkan bahwa sistem AI kini dapat menangani 500.000 hingga 700.000 pertanyaan per bulan dan beroperasi sepanjang waktu untuk memastikan ribuan warga dapat menerima bantuan tepat waktu.
Pertanyaan ini melibatkan banyak hal, seperti pendaftaran, tinjauan kualifikasi, pembaruan informasi, dan pemecahan masalah. Dasgupta menekankan bahwa sistem yang efisien dan terukur tersebut sangat sejalan dengan tujuan inisiatif Digital India untuk membuat layanan pemerintah mudah diakses oleh setiap warga negara.
Tidak hanya itu, AI juga menghilangkan hambatan bahasa melalui sistem dukungan bilingual, sehingga membuat interaksi dengan proyek pemerintah menjadi lebih sederhana. Misalnya, Perusahaan Katering dan Pariwisata Kereta Api India (IRCTC) menggunakan chatbot AI percakapan yang disebut AskDISHA2.0 untuk membantu pengguna memesan tiket dengan mudah melalui operasi suara, obrolan, dan klik.
Manohar Paluri, Wakil Presiden AI di Meta Company, juga menyebutkan pada pertemuan puncak tersebut bahwa India telah menunjukkan antusiasme yang besar dalam penerimaan dan penerapan teknologi AI. Ia mencontohkan Pratham, sebuah organisasi nirlaba pendidikan, untuk menggambarkan bagaimana AI dapat membantu anak-anak belajar dengan cara yang lebih ekonomis. Melalui teknologi tersebut, para petani juga akan memiliki akses terhadap informasi dukungan pertanian dan keuangan dalam bahasa ibu mereka yang sebelumnya tidak dapat mereka akses.
Menurut data pemerintah India, pengeluaran India di bidang AI meningkat sebesar 109,6% pada tahun 2018 dan diperkirakan akan mencapai sekitar US$11,7 miliar pada tahun 2025. Model AI lokal di India juga mulai bermunculan. Misalnya, OpenHathi yang diluncurkan oleh Sarvam AI adalah model bahasa pertama di India yang berfokus pada bahasa Hindi, dan menunjukkan kinerja serupa dengan GPT-3.5.
Pada saat yang sama, Tanusree Barma dari UIDAI menyebutkan pada pertemuan puncak tersebut bahwa mereka juga mempromosikan lokalisasi AI untuk menjamin keamanan dan otonomi data. Dengan terus mengembangkan solusi AI lokal, India secara bertahap mengurangi ketergantungannya pada teknologi asing.
Selain itu, India secara aktif mempromosikan rencana BharatGPT, yang bertujuan untuk membangun model AI dasar multibahasa dan multimodal. Inisiatif yang didukung pemerintah ini melibatkan semua sektor masyarakat dan meletakkan dasar yang kuat untuk digitalisasi di masa depan.
Secara keseluruhan, eksplorasi aktif dan investasi besar India di bidang kecerdasan buatan telah memberikan dorongan kuat pada modernisasi e-Government dan pengembangan ekonomi digital. Hal ini tidak hanya meningkatkan efisiensi layanan pemerintah, namun juga menghadirkan pengalaman hidup digital yang lebih nyaman dan adil bagi masyarakat. Di masa depan, inovasi dan pengembangan India di bidang AI patut terus mendapat perhatian.